RUMIAH, KISAH POLWAN JADI KAPOLDA PERTAMA

HomeInformasi

RUMIAH, KISAH POLWAN JADI KAPOLDA PERTAMA

Rumiah baru saja menyelesaikan salat isya ketika telepon genggamnya berdering di awal Januari 2008. Ia kaget ternyata yang menelpon ternyata salah sa

Kegiatan Gerakan Bhakti Sosial Polri Peduli Covid-19
PELANGGARAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL
KONFERENSI PERS PENGUNGKAPAN KASUS PENYELUNDUPAN DAN ATAU PERDAGANGAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI ELEKTRONIK BERUPA TELEPHONE SELULER ATAU HP

Rumiah baru saja menyelesaikan salat isya ketika telepon genggamnya berdering di awal Januari 2008. Ia kaget ternyata yang menelpon ternyata salah satu petinggi di Markas Besar Polri. “Selamat ya ditugaskan jadi Kapolda Banten. Ibu luar biasa. Sudah buka pintu bagi Polwan,” ujar Rumiah menirukan ucapan kawan sejawatnya itu.

Mendapat ucapan itu, Rumiah tambah terkejut. Ia yang saat itu menjabat Sekretaris Lembaga Pendidikan Polri (Seslemdikpol) tak percaya. Pikirnya mungkin petinggi Polri tersebut sedang bergurau. “Saya tanya balik apa benar kabar itu jenderal?,” kata Rumiah menceritakan kisah itu pada DetikX, Kamis 7 September 2017. “Kalau bukan becanda ya mungkin salah nama.”

Waktu itu, kata Rumiah memang ada seorang perwira menengah Polri laki-laki yang memiliki nama hampir mirip dengannya. “Kamu besok pagi-pagi ke kantor langsung ke petugas piket. TR (Telegram Rahasia) tadi sudah dikirim,” ujar Rumiah kembali menirukan sang jenderal.

Keesokan paginya, perempuan kelahiran Tulungagung, Jawa Timur 64 tahun lalu itu bergegas ke kantor. Benar sudah ada surat di petugas piket. “Saya lihat nama benar, NRP benar. Kalau dua-duanya sama artinya kabar itu benar,” kata Rumiah. “Waktu selesai baca saya sedikit khawatir, Banten daerah baru bagi saya.”

Dua hari setelah menerima surat itu, Komisaris Besar Rumiah dilantik sebagai Kepala Kepolisian Daerah Banten oleh Kapolri, Jenderal Sutanto menggantikan Brigjen Timur Pradopo. Tanggal 23 Januari 2008 itu menjadi hari bersejarah bagi Korps Polwan untuk kali pertama sepanjang sejarah Polri seorang polwan ditugaskan memegang pimpinan tertinggi polisi di level provinsi.

Rumiah yang beberapa hari setelah menjabat akhirnya menyandang pangkat bintang satu di pundaknya mengakui penugasan barunya itu mendapat sorotan dari masyarakat. “Ini tantangan bagi saya untuk bekerja baik. Saya membawa beban nama polwan, jadi harus kasih yang terbaik karena ini pasti menjadi barometer bagi pengangkatan polwan selanjutnya,” ujarnya.

Menyadari tantangan itu Rumiah memetakan daerah penugasannya. “Banten dikenal sebagai daerah seribu kiai sejuta santri,” ujarnya. “Saya silaturahmi ke ulama-ulama mencoba menjalin komunikasi dengan mereka.” Hubungan baik itu pun kata Rumiah terjalin sampai hari ini. Rumiah yang kini Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banten kerap bertemu dengan para ulama. “Mereka masih menyapa bu Kapolda,” kata Rumiah sambil tertawa.

Komunikasi itu pula diintensifkan saat jelang eksekusi mati terpidana kasus Bom Bali Imam Samudra alias Abdul Aziz. Rumiah mencoba meredam ketegangan dan kegaduhan di kampung Imam Samudra di Serang, Banten. “Situasinya lumayan rumit karena beberapa kali eksekusi mengalami penundaan dan Banten keamanan Banten jadi sorotan,” kata Rumiah. 

Tak hanya para ulama, pihak militer pun digandeng untuk menghadapi situasi itu. “Saya juga minta saran dari sejumlah senior Kapolda yang lain.” Sejumlah isu tak sedap yang muncul jelang pemakaman Imam Samudra akhirya tak terbukti berkat kesigapan Rumiah. “Pengamanan pemakaman itu sungguh membekas bagi saya.” Rumiah memegang jabatan Kapolda Banten sampai 2010. Ia termasuk salah satu Kapolda terlama di Banten.

Perkenalan ibu dua anak yang akrab disapa ‘Mbak Rum’ ini dengan Polri dimulai di Surabaya. Sarjana Olahraga dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya (kini Universitas Negeri Surabaya) mendengar ada penerimaan Wamilsuk (Wajib Militer Sukarela) di kampusnya di tahun 1978. “Saya ikut mendaftar. Eh, diterima,” ujarnya. Waktu itu, Rumiah sudah masuk jajaran atlet nasional olahraga softball dan sering mewakili Indonesia diberbagai kejuaraan. Bahkan dia pernah meraih medali emas dari arena SEA Games.

Namun sebelumnya Rumiah mengaku sangat menyenangi seragam angkatan bersenjara. Kakak laki-lakinya seorang prajurit Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut. “Kalau mas pulang ke rumah, saya selalu pakai seragamnya,” katanya. “Saya lihat kalau dia  pakai seragam ya kok gagah banget.

Ayahnya, H. Kartoredjo, sebenarnya ingin Rumiah jadi guru. Kartoredjo sendiri memang pernah jadi guru pada masa penjajahan Belanda sebelum beralih menjadi mandor di pabrik gula. Maka Rumiah kuliah di IKIP Surabaya. Tapi jalan hidup Rumiah berbelok jauh dari rencana.

Rumiah bertanya pada kakaknya itu apakah KKO punya prajurit perempuan. “Mas saya akhirnya menyarankan saya daftar polisi saja,” katanya. Lulus pendidikan Rumiah lalu ditempatkan di Komando Pengembangan Pendidikan dan Latihan (Kobangdiklat) yang sekarang jadi Lemdiklat. Ia ditunjukan menjadi Komandan Peleton Danton Pendidikan Sepa Polwan.  Ibu dua anak ini juga sempat menjadi Kepala Sekolah Polisi Wanita (Kasepolwan) Lemdikpol pada 1999.

Tak salah pilihan Rumiah. Dia menjadi bagian dari sejarah di kesatuannya.